Thursday, September 29, 2011

Why Mommy, Why?

Hi, Mommy.

I'm your baby. You don't know me yet, I'm only a few weeks old. You're going to find out about me soon, though, I promise. Let me tell you some things about me. My name is John, and I've got beautiful brown eyes and black hair. Well, I don't have it yet, but I will when I'm born. I'm going to be your only child, and you'll call me your one and only. I'm going to grow up without a daddy mostly, but we have each other. We'll help each other, and love each other. I want to be a doctor when I grow up.

You found out about me today, Mommy! You were so excited, you couldn't wait to tell everyone. All you could do all day was smile, and life was perfect. You have a beautiful smile, Mommy. It will be the first face I
will see in my life, and it will be the best thing I see in my life. I know it already.

Today was the day you told Daddy. You were so excited to tell him about me! He wasn't happy, Mommy. He kind of got angry. I don't think that
you noticed, but he did. He started to talk about something called wedlock, and money, and bills, and stuff I don't think I understand yet. You were still happy, though, so it was okay. Then he did something scary, Mommy. He hit you. I could feel you fall backward, and your hands flying up to protect me. I was okay... but I was very sad for you. You were crying then, Mommy. That's a sound I don't like. It doesn't make me feel good. It made me cry, too. He said sorry after, and he hugged you again. You forgave him, Mommy, but I'm not sure if I do. It wasn't right. You say he loves you... why would he hurt you? I don't like it, Mommy.

Finally, you can see me! Your stomach is a little bit bigger, and you're so proud of me! You went out with your mommy to buy new clothes, and you were so so so happy. You sing to me, too. You have the most beautiful voice in the whole wide world. When you sing is when I'm happiest. And you talk to me, and I feel safe. So safe. You just wait and see, Mommy. When I am born I will be perfect just for you. I will make you proud, and I will love you with all of my heart.

I can move my hands and feet now, Mommy. I do it because you put your hands on your belly to feel me, and I giggle. You giggle, too. I love you, Mommy.

Daddy came to see you today, Mommy. I got really scared. He was acting funny and he wasn't talking right. He said he didn't want you. I don't know why, but that's what he said. And he hit you again. I got angry, Mommy. When I grow up I promise I won't let you get hurt! I promise to protect you. Daddy is bad. I don't care if you think that he is a good person, I think he's bad. But he hit you, and he said he didn't want us. He doesn't like me. Why doesn't he like me, Mommy?

You didn't talk to me tonight, Mommy. Is everything okay?

It's been three days since you saw Daddy. You haven't talked to me or touched me or anything since that. Don't you still love me, Mommy? I still love you. I think you feel sad. The only time I feel you is when you sleep. You sleep funny, kind of curled up on your side. And you hug me with your arms, and I feel safe and warm again. Why don't you do that when you're awake, any more?

I'm 21 weeks old today, Mommy. Aren't you proud of me? We're going somewhere today, and it's somewhere new. I'm excited. It looks like a hospital, too. I want to be a doctor when I grow up, Mommy. Did I tell you that? I hope you're as excited as I am. I can't wait.

Mommy, I'm getting scared. Your heart is still beating, but I don't know what you are thinking. The doctor is talking to you. I think something's going to happen soon. I'm really, really, really scared, Mommy. Please tell me you love me. Then I will feel safe again. I love you!

Mommy, what are they doing to me!? It hurts! Please make them stop! It feels bad! Please, Mommy, please please help me! Make them stop!

Don't worry Mommy, I'm safe. I'm in heaven with the angels now. They told me what you did, and they said it's called an abortion.

Why, Mommy? Why did you do it? Don't you love me any more? Why did you get rid of me? I'm really, really, really sorry if I did something wrong, Mommy. I love you, Mommy! I love you with all of my heart. Why don't you love me? What did I do to deserve what they did to me? I want to live, Mommy! Please! It really, really hurts to see you not care about me, and not talk to me. Didn't I love you enough? Please say you'll keep me, Mommy! I want to live smile and watch the clouds and see your face and grow up and be a doctor. I don't want to be here, I want you to love me again! I'm really really really sorry if I did something wrong. I love you!

I love you, Mommy.

Every abortion is just…

One more heart that was stopped.

Two more eyes that will never see.

Two more hands that will never touch.

Two more legs that will never run.

One more mouth that will never speak.


If you’re against abortion, share this.

Sunday, September 25, 2011

Tuhan, Izinkanlah! Cuma ingin Engkau yang bertakhta di hati ini!

Di pelataran dinginnya malam, aku terdampar sendiri.


Saat ini, tika ini, hati seakan-akan terdera dengan amukan hawa nafsu dan perasaan yang mengetuk-ngetuk tangkai hati. Tidak semena-mena, titisan jernih jatuh, setitis demi setitis. Hati sebak.

Dibiarkan air jernih itu mengalir hangat. Berlawan dengan emosi, ternyata seringkali diriku menjadi kalah, menjadi tewas. Nurani membentak, jiwa ini tidak tenang. Kenapa? Kenapa begini? Kenapa sekarang jadi begini?


Dulu hati itu dapat merasai sebuah ketenangan. Namun kini ketenangan itu seakan-akan diragut. Diragut oleh siapa? Apakah ia hilang ditarik oleh Tuhan? Atau kerana dosa-dosa yang dilakukan? Soalan-soalan itu bertubi-tubi menyoal, namun hati sememangnya tidak mampu menjawab. Terdiam sepi. Adakah hati itu telah mati?


Memang tidak ku nafikan, kasih dan rindu padanya sering bertandang ke hati. Tetapi berkali-kali ku ingatkan pada diri, kasih sayang itu tidak abadi!


'Berpada-padalah dalam menyayangi, jika tidak kelak dikau akan menangisi!'


Entah dari mana suara itu datang dan berbisik pesanan, kemudian hilang.


Namun kini, aku pula yang terkena panahan kasihnya itu. Semakina ku lari, semakin dia mendekati. Benarlah. Menjaga sekeping hati amat sukar sekali. Perlu sangat cermat dan berhati-hati. Aku mengeluh, melepaskan sebuah keluhan perasaan yang berat, yang semakin memberati rasa hati.


Jiwa ini tidak lagi suci, terasa ia tersangat kotor.
 

"Ya Ilahi, di manakah Engkau selama ini yang bertakhta di hati? Kenapa ia sekarang telah terganti dengan makhlukMu? Kenapa diri terlalu tega menggantikan tempat teragung itu dengan insan dan makhlukMu yang hina?"


Hati bermonolog lagi sendirian. Tidak! Ia punya peneman. Sang Tuhan yang sentiasa ada mendengar setiap keluhan.


"Astaghfirullahalazim... Ighfirli Robbi... Ighfirli..."


Bibir memantulkan kalimah suci itu perlahan-lahan. Bibir diketap erat. Menahan tangkai emosi yang kian membuak-buak rasa pilu dan syahdu bila menyebutkan nama terindah itu, jiwa menjadi mudah terusik.

Berbicara dengan Sang Agung, air jernih itu terus menitis kemudian semakin mencurah-curah. Teresak-esak.


"Ya Rabbi, pegang hati ini, dakaplah ia seerat-eratnya, jangan sesekali biarkan ia termiliki oleh makhlukMu, ku tidak sanggup menggantikan tempatMu dengan yang lain, tidak sanggup juga berkongsi rasa itu, ku cuma mahu kasih itu teragung untukMu, ku cuma mahu rindu itu terpatri untukMu, ku cuma mahu cinta itu hanya membunga untukMu Tuhan, jangan biarkan daku terkalahkan dengan emosi dan perasaan yang seringkali dipermainkan oleh syaitan.


Ya muqallibal qulub, tetapkanlah jiwa ini setulusnya di jalanMu, pancarkan cahaya bagiku di jalan yang gelap agar aku tidak teraba-raba kesepian sendirian di hujung jalan yang kelam, jangan biarkan ku terus begini tanpaMu disisi.
 

''Tuhan, Izinkanlah! Cuma ingin Engkau yang bertakhta di hati ini''
 

Berkali-kali kalimah itu diungkapkan pilu dalam pelantaran sujudnya. Wajah diraup setelah tangan menadah. Hati terus berdoa dan berharap, semoga Dia menerima segala-galanya~ 


Friday, September 23, 2011

Usrah; Kerana Kamu Yang DipilihNya Untuk Menemani Hariku


Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Maaf sahabat,
Andai muzakarah kali ini agak mengejut bagi kalian,
Namun tidak lain tidak bukan,
Aku lakukan semua ini kerana rasa cinta, kasih dan sayang yang hadir di hati-hati yang sedang bertaut keranaNya.

Maaf jika aku seolah-olah berlagak sempurna,
Maaf jika perlakuan aku menimbulkan su'uzhon buat kalian,
Tapi kerana kalian yang ku gelar sahabat,
Pedih sekali di sudut qalbi untuk mengiyakan suatu perkara yang tidak seharusnya.

Aku cuma takut,
Takut andai aku tidak sempat diberi kesempatan lagi untuk menegur dirimu,
Takut andai di akhirat kelak,
Kau akan datang memohon dibahagikan dosa sama kepada ku kerana aku tidak menegur dirimu~


Sahabat,
Maaf.
Maaf andai diri ini masih belum sempurna untuk menegur~
Tapi, sejujurnya.
Sekali mulut ini menitikan kata cinta kepada kalian kerana Allah,
Sekali & selamanya jugalah hati ini inginkan kalian benar-benar kepada & kerana Allah~

Monday, September 12, 2011

#Part 3; Kerana Aku Sayangkan Kamu KeranaNya


My dear ukhti,
Sudah agak lama tangan ini tidak menari untuk bertinta menulis warkah kepadamu,
Sejujurnya, bukan aku jemu.
Malahan jauh sekali untuk berhenti mengajakmu kembali.

Apa khabar imanmu, puteri harapan Islam?

Apa khabar hatimu, duhai srikandi ad-Deen?
Doaku, mohon agar Dia sentiasa memegang hatiku & hatimu,
Jangan pernah sekali dilepaskan kepada kita yang alpa ini.

Ukhtiku,
Aku rindu melihat srikandi-srikandi Islam terdahulu.
Apakah mungkin lagi barangkali, untuk melihat bayang-bayang wanita terdahulu itu pada generasi kita abad ini?
Allah, astaghfirullah~
Untuk bertanyakan soalan seperti ini juga,
Sudah terasa hina aku dibuatnya.
Merindukan sahaja belum cukup.
Belum cukup, andai tidak dibuktikan dengan usahaku.

Jika aku rindu dan aku ingin,
Maka akulah yang terlebih dahulu harus menggerakan usaha itu.
Tapi aku mohon padaNya,
Agar kau turut bersamaku dalam barisan untuk mengembalikan qudwah terdahulu itu~
Oleh kerana itu,
Warkah ini ku coretkan lagi.

Ukhti ku sayang,
Maaf jika aku teragak lancang untuk mengatakan,
Bahawa langkahmu kini ku lihat agak tersasar.
Maaf, maaf.
Aku tidak bermaksud untuk menghukum dirimu yang jauh lebih sempurna imannya dariku.
Tapi jujur,
Aku rindu.
Dan aku inginkan dirimu yang dahulu.
Yang dahulunya menjadi qudwah bagiku untuk berubah,
Sehingga di tahap mana aku berada sekarang.

Namun,
Mengapa sekarang kau ingin membiarkan aku tergapai-gapai sendiri dalam mujahadah ini?
Mengapa langkah kau semakin jauh dari tempat aku bertapak kini?
Ukhtiku, kembalilah.
Kembalilah ke tempat di mana kau dahulu bertapak.
Kembalilah menjadi seorang nisa' yang sangat menjaga rapi hatinya.
Seorang nisa' yang mampu untuk melawan segala bisik syaitan dihati.
Yang selalu menjadi contoh tauladan bagiku dahulu, dan kini.

Sayangku,
Aku tahu kau kuat.
Malah, lebih kuat dari aku untuk menghadapi ujian hati.
Namun apakah kau tidak menyedari bahawa kau sekarang sedang melonggarkan penjagaan hatimu?
Ya, tidak salah.
Tidak salah dari segi hukum syara' apa yang kau lakukan,
Namun, jika berterusan kau lakukan,
Maka perkara lain yang kau timbulkan.
Jangan cuma di fikir hukumnya sayangku,
Namun fikirlah akibat dan asbab kenapa kau melakukannya.

Kalau benar kau ingin cintamu bertapak hanya padaNya,
Lupakan.
Lupakan segala yang akan membawamu jauh daripadaNya.
Ya, aku & Dia tidak menjanjikan kemudahan bagi mujahadah yang bakal kau tempuhi ini,
Namun jika kau yakin Dia bersamamu,
Dan jika kau yakin pada kalamNya,
Kau akan dapati kemudahan di sebalik semua ini.

Dear,
Peganglah kata-kataku,
Selangkah kau mendekati seorang ajnabi, selangkah juga kau berlalu menjauhiNya.
Jangan, jangan biarkan Dia cemburu,
Kerana di hatimu ada bertapak cinta daripada seorang makhluk yang tidak halal.
Mujahadah sayangku,
Mujahadah!
@Part I

@Part II 


No worries dear, He's still waiting, and forever will~

Friday, September 9, 2011

Sudahkah Kau Lupa Duhai Akhi Fillah?



Akhi~
Kau yang pernah dan masih aku kagumi kerana agamamu.
Mengapa harus dibuka ruang di hatimu untuk menempatkan cinta makhluk selain cinta Rabbmu?

Mengapa nur yang dahulunya aku lihat di wajahmu,
Semakin pudar di mataku?
Apakah mungkin kerana aku yang tidak layak untuk melihat nur itu?
Ataupun kerana semakin kelamnya hatimu dengan cinta makhluk itu?

Ya, tidak aku menyalahkanmu atas hadirnya perasaan itu.
Namun, kau.
Kau yang aku sangkakan kental dan bahkan mustahil untuk rebah kerana seorang wanita,
Aku lihat semakin ke arah itu.

Akhi~
Meskipun bukan kata cinta yang kau ungkapkan,
Jangan pernah cuba untuk menyiratkan ia dalam kata suratanmu.
Jangan pernah kau cuba untuk palsukan cinta nafsumu dengan cinta dari Allah.

Apakah kau sudah lupa?
Bahawa jika cinta dan rasa itu datang dariNya, 
Maka akan semakin kuatlah cintamu kepadaNya.
Bukannya semakin menjauhkanmu daripadaNya.

Ya, tidak aku cuba untuk menghukum.
Menghukum bahawa kau semakin lalai dan semakin alpa.
Kerana siapa aku untuk berlaku sebegitu?
Sedangkan aku sendiri masih tergapai-gapai,
Sedangkan masih banyak amalku yang tidak seiring bicara.
Dan sedangkan aku sendiri masih tidak kukuh imannya.

Namun kerana kau yang pernah ku gelar mujahid agama,
Aku seolah-olah tidak sanggup melihat hati kau dinodai dengan cintanya.
Jangan pernah kerana seorang mujahidah juga,
Kau dan dia bertukar menjadi seseorang yang meruntuhkan gelaran itu sendiri.

Akhi & Ukhti,
Jagalah hatimu.
Jagalah imanmu.
Jagalah cintamu.
Simpanlah ia hanya untuk yang berhak.
Jangan pernah sesekali kau gunakan namaNya dalam cinta nafsumu.
Andai benar cinta itu datang dari Allah semata-mata dan kau tidak inginkan kehadirannya,
Tak perlu kau cuba untuk menguar-uarkan kepadanya bahawa kau sedang bermujahadah.
Kerana aku takut,
Takut mujahadahmu itu bukan lagi keranaNya namun kerananya.

Kau, mujahidah yang aku sayangi.
Jangan pernah cuba untuk meruntuhkan iman seorang mujahid dengan keimanan yang kau punya.

Salam tulus dan sayang,
Aku.